Admin
IMPLEMENTASI INFERENCE ENGINE DENGAN RANGKAIAN MUNDUR PADA SISTEM PAKAR UNTUK SIMULASI SELEKSI TERNAK (Prosesor Vol 2 Edisi 3 Juni 2011)
by Admin Utama - Sunday, 25 August 2013, 06:20 PM
 
Prosesor Vol 2 Edisi 3 Juni 2011

Oleh :

Harmayani, ST, M.Kom

Dosen AMIK INTeL Com GLOBAL INDO

Abstrak

 Dalam jurnal ini akan dibahas implementasi langkah-langkah inference engine untuk kasus pembuatan sistem pakar simulasi seleksi ternak. Sistem pakar ini dapat digunakan untuk membantu memilih ternak-ternak yang dianggap unggul sebagai ternak bibit. Proses pembentukan inference engine dengan menggunakan metode backward chaining didahului dengan proses akuisisi pengetahuan, dilanjutkan dengan representasi pengetahuan ke dalam aturan-aturan IF…THEN. Informasi-informasi yang ada disimpan dalam bagian pernyataan basis pengetahuan yang disebut “fact”. Hal ini berarti premis (sisi IF) dari aturan adalah benar. Dengan menggunakan modus ponen, kesimpulan (consequent) akan bernilai benar. Kita katakan bahwa aturan I telah disulut (fires). Penyulutan sebuah aturan terjadi hanya ketika semua bagian-bagian aturan terpenuhi (baik benar atau salah). Maka, kesimpulan disimpan dalam basis pernyataan. Pemberian nilai benar (atau salah) untuk setiap bagian aturan dapat diperoleh dengan memberikan pertanyaan ke user atau dengan menyulut aturan yang lain. Dari pengetahuan yang diperoleh, telah dirumuskan 3 buah fakta (fact) dan 11 aturan proses simulasi seleksi ternak. Dari 11 aturan tersebut, dibuat sebuah rangkaian mundur ( backward chaining ) dengan proses penalaran modus ponen sehingga dicapai suatu tujuan, yaitu mendapatkan sekelompok ternak terseleksi.

Kata kunci : Inference engine, backward chaining, fact


1. Pendahuluan


Sumberdaya genetik ternak merupakan unsur penting dalam kegiatan pemuliaan ternak dan mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi perolehan bibit bermutu, sehingga sumberdaya genetik ternak sebagai kekayaan nasional perlu dilestarikan dan dimanfaatkan guna menunjang peningkatan produksi ternak.

Dalam pemuliaan temak, seorang peternak cenderung untuk merubah atau menentukan hal-hal yang terlihat seperti produktifitas ternak pada tingkatan tertentu yang diinginkan (Ruhyat Kartasudjana,2001). Untuk melakukannya diperlukan informasi atau data mengenai sifat-sifat yang akan diturunkan tersebut atau sering disebut dengan sifat-sifat genetik misalnya seperti bobot badan, produksi telur, dan sebagainya. Sifat-sifat seperti itu dikenal sebagai sifat kuantitatif dan dikontrol oleh sejumlah kecil gen. Sifat kualitatif adalah sifat yang tidak dapat diukur, tapi bisa dikelompokkan. Misalnya warna bulu, bentuk tanduk. Sifat ini sedikit atau tidak dipengaruhi lingkungan dan biasanya dikontrol oleh satu atau dua pasang gen saja. Sedangkan kebanyakan sifat-sifat produktif yang menjadi pengamatan peternak adalah dikontrol oleh pasangan - pasangan gen dan termodifikasi oleh lingkungan yang dihadapi oleh ternak bersangkutan. Seorang peternak dapat menentukan dua hal yang berpengaruh terhadap peningkatan mutu genetik temaknya yakni melalui memilih ternak yang dipakai sebagai tetua dan memilih ternak yang akan dikawinkan.


.:: All Right Reserved @2015 by AMIK INTeL Com GLOBAL INDO ::.

[Home]