Admin
BIAS GENDER DALAM BUKU PELAJARAN AGAMA ISLAM SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) (Prosesor Vol 2 Edisi 4 Desember 2011)
by Admin Utama - Sunday, 25 August 2013, 09:36 PM
 
Prosesor Vol 2 Edisi 4 Desember 2011

Raja Dedi Hermansyah,

Dosen AMIK INTeL Com Global Indo, Kisaran

Abstrak

Masalah gender sampai saat ini masih hangat dan perlu diperbincangkan, karena perbedaan gender secara sosial telah melahirkan perbedaan peran lelaki dan perempuan dalam masayarakatnya. Secara umum, adanya gender telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab, fungsi dan bahkan ruang tempat di mana manusia beraktivitas. Sedemikian rupa perbedaan gender ini melekat pada cara pandang masyarakat, sehingga sering lupa seakan-akan hal itu merupakan sesuatu yang permanen dan abadinya ciri biologis yang dimiliki masing-masing manusia. Dalam lembaga pendidikan, ada dua problem besar yang dihadapi perempuan. Pertama, terbatasnya akses dan kesempatan yang sama untuk medapatkan pendidikan. Kedua, masih ditemukan buku-buku teks pada pendidikan tingkat SD, SMP, SMA yang mengandung unsur bias gender. Problam pertama itu dijawab oleh dunia internasional dengan menyediakan askes pendidikan seluas-seluasnya bagi anak-anak perempuan. Kesempatan pendidikan bagi anak perempuan itu diberikan dengan asumsi bahwa anak perempuan harus diberdayakan untuk mengejar ketinggalan. Di Indonesia problem kedua tersebut merupakan persoalan yang menarik untuk dikaji, karena institusi agama masih merupakan faktor yang sangat kuat dan sangat menentukan di dalam masyarakat.



1. Pendahuluan

Istilah gender diketengahkan oleh para ilmuan sosial untuk menjelaskan mana perbedaan laki-laki dan perempuan yang bersifat bawaan sebagai ciptaan Tuhan dan mana yang dikonstruksikan, dipelajari dan disosialisasikan. Perbedaan ini sangat penting, karena selama ini sering dicampur-adukkan antara ciri-ciri manusia yang bersifat kodrati dan tidak berubah dengan ciri-ciri manusia yang bersifat non kodrati (gender) dan sebenarnya, bisa berubah dan diubah. Perbedaan gender ini sangat membantu untuk memikirkan ulang tentang pembagian peran yang selama ini dianggap telah melekat pada manusia–lelaki dan perempuan. Dengan mengenali perbedaan gender sebagai sesuatu yang tidak tetap, tidak permanen, dapat memudahkan untuk membangun gambaran tentang realitas relasi lelaki dan perempuan yang dinamis yang lebih tepat dan cocok dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat. Dengan kata lain, mengapa perlu memisahkan perbedaan jenis kelamin biologis dan gender adalah karena konsep jenis kelamin biologis yang bersifat permanen dan statis itu tidak dapat digunakan sebagai alat analisis yang berguna untuk memahami realitas kehidupan dan dinamika perubahan relasi lelaki dan perempuan.

Masalah gender sampai saat ini masih hangat dan perlu diperbincangkan, karena perbedaan gender secara sosial telah melahirkan perbedaan peran lelaki dan perempuan dalam masayarakatnya. Secara umum adanya gender telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab, fungsi dan bahkan ruang tempat di mana manusia beraktivitas. Sedemikian rupa perbedaan gender ini melekat pada cara pandang masyarakat ini, sehingga sering lupa seakan-akan hal itu merupakan sesuatu yang permanen dan abadinya ciri biologis yang dimiliki masing-masing manusia. Dalam realitas sosial, dapat disebutkan bahwa faktor utama penyebab adanya konstruksi sosial yang mengandung unsur bias gender adalah pendidikan. Inti pendidikan tampak pada kurikulum yang diterapkan. Implementasi kurikulum pendidikan terletak pada buku ajar yang digunakan, dalam hal ini pada kurikulum pendidikan agama Islam Sekolah Menengah Atas tahun 2004 terdapat 3 jilid, yaitu untuk kelas X, XI dan kelas XII. Sayangnya, masalah ini belum mendapat perhatian besar dari semua pihak, termasuk para penyusun kerikulum/silabus materi pelajaran agam Islam baik pada tingkat sekolah dasar maupun sampai ke perguruan tinggi. Yang muncul ke permukaan atau yang ada dalam buku-buku panduan pelajaran agama Islam justru unsur bias gendernya, yakni adanya suatu pandangan dan sikap yang lebih mengutamakan salah satu jenis kelamin dibanding jenis kelamin lain. Untuk itu, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Bias Gender dalam Buku Pelajaran Agama Islam Sekolah Mengah Atas; Sebuah Analisis Isi”. Diharapkan penelitian ini akan berbeda dengan penelitian-penelitian terdahulu, karena penelitian ini difokuskan pada bias gender yang terdapat pada buku pelajaran agama Islam Sekolah Menengah Atas (SMA), dengan pendekatan contens analisys (analisis isi).


.:: All Right Reserved @2015 by AMIK INTeL Com GLOBAL INDO ::.

[Home]